HIMPUNAN ALUMNI IPB HARUS IKUT MENYUARAKAN KEPENTINGAN PETANI

by

Dua minggu terakhir para alumni Institut Pertanian Bogor dihangatkan dengan rencana Munas Himpunan Alumni. Himpunan tsb adalah wadah resmi yg menampung keberadaan ribuan alumni. Di dalamnya pendapat seluruh alumni disuarakan.

Himpunan Alumni IPB membuka ruang diskusi intelektual yg aktif. Masukan ilmiah maupun pandangannya diperhitungkan oleh pemerintah. Kekinian pendapat dan idenya yg efisien menjadi inspirasi bagi lembaga2 swadaya di masyarakat yg memerlukan pemikiran kreatif. Himpunan Alumni membentuk dan mendorong pengurus di kota, kabupaten, dan provinsi agar bergairah merancang aktivitas positif pertanian dalam arti luas. Mereka juga mewadahi berbagai kegiatan sosial alumni.

IPB adalah sebuah perguruan tinggi besar papan atas di salah satu negara terluas dan terpadat di dunia. Sudah wajar jika Himpunan Alumninya menjadi organisasi sosial yg berpengaruh.
Sebagai wadah kaum intelektual, wajar jika suara HA-IPB memiliki martabat untuk didengar. Tanpa harus personilnya berasal dari struktural kekuasaan atau memainkan politik praktis, keberpihakan suara Himpunan Alumni IPB kepada dunia pertanian sepatutnya diperhitungkan.

Harus disadari, bahwa KHARISMA individu bisa terbawa dari lahir. Tapi Kharisma sebuah organisasi harus dibentuk. Tidak serta merta. Dan di negara agraris indonesia, suara himpunan alumni IPB belum menjadi rujukan.

Itulah kenapa, pesta demokrasi Munas HA IPB menjadi atraktif. Karena menjadi ajang pemilihan Pimpinan dan pembentukan pengurus baru. Mereka yg baru itu harus bisa memuluskan jalan menuju impian, demi mewujudkan semua hal ideal itu.

Organisasi Ha Yang Bergairah Ke Dalam

Salah satu prestasi yg telah dicapai Pengurus Himpunan Alumni IPB saat ini adalah mampu menggairahkan kepengurusan di daerah. Terjadi pembentukan pengurus yg massive. Dan itu positif untuk mewadahi para alumni yg terserak.

Dalam 4 tahun terakhir, kabar seru soal dibuatnya reuni alumni IPB di daerah, terus berdatangan. Mereka membuat grup2 Whats Up. Rapat2 untuk membentuk pengurus provinsi, kota, dan kabupaten marak digelar. Diskusi intens tanpa batas waktu di media sosial pun dilakukan. Terjadi kesibukan komunikasi antar alumni yg tadinya bermukim sedaerah, tapi tak saling kenal. Transaksi ide maupun transaksi dagang betulan antar alumni, mulai sering terjadi. Jalan silaturahmi menuju alumni yg guyub pun terbuka lebar.

Satu lainnya yg juga menjadi catatan sukses dari pengurus HA saat ini adalah terwadahinya kegiatan sosial. Yayasan Alumni Peduli IPB mampu bergerak aktif dan menjadi promotor Beasiswa bagi mahasiswa berprestasi yg tak mampu. Dana 24 milyar rupiah terhimpun dan milyaran rupiah pula tersalurkan. Banyak calon mahasiswa pintar dari keluarga miskin yg tadinya sudah putus asa karena tak miliki biaya, dibuat gembira.

Beasiswa yg dulu hanya mimpi kini menjadi dana abadi. Seperti abadinya dana Nobel, tapi yg ini khusus diberikan kepada mahasiswa IPB. Jika dulu hanya ada beasiswa dari pemerintah, kini ada beasiswa dari alumni. Resmi. Diluar beasiswa dari kelompok2 angkatan, grup2 fakultas dan pribadi, yg tetap boleh ada dan masing2 bebas bergerak, karena tak ada kewajiban harus bergabung dengan Yayasan.

Tim Yayasan Alumni Peduli IPB sungguh melakukan sebuah kerja luar biasa di bawah Supervisi dari sang Ketua Umum HA dan Sekjen. Tak heran bila sosok Bendahara HA yg sekaligus menjadi ketua Yayasan Alumni Peduli IPB, lalu dikenal sebagai motor yg menggerakkan tim sosialnya itu. Namanya jadi populer dan banyak ditanyai tentang kiprah praktikal kesehariannya.

Maka wajar ketika mendengar sang ketua yayasan dilamar oleh para alumni. Si pekerja keras didaulat menjadi salah satu calon Ketua Umum HA di Munas pekan ini.
Dari 4 pasangan calon yg sudah lolos verifikasi, nama Fathan Kamil sang motor Yayasan Alumni peduli, menjadi salah satu kandidat kuat untuk jabatan Ketua Umum HA IPB periode berikutnya. Ia berhadapan dengan sang petahana, yg namanya tetap mengisi kolom kandidat. Konon, menurut keterangan seorang senior, ini adalah pertama kalinya petahana ikut pencalonan lagi.

Sikap Diam Yang Politis

UNIK. Selain menjalankan agenda membentuk pengurus2 di daerah, salah satu yg menonjol dari sikap Himpunan Alumni IPB yg akan segera berakhir ini adalah DIAM. Ramai di dalam, senyap keluar.

Mereka yg minim pendidilan akademis seperti pelaku pasar tradisional, pekebun, dan nelayan saja, mengeluarkan suara mengenai kondisi negara saat ini. Tapi Himpunan Alumni IPB memilih diam. Diam bukan karena netral. Tapi diam yg membungkam. Mematikan saluran suara anggotanya. Dengan alasan menghindari konflik politik.

Suara HA IPB tak hanya senyap dalam menghadapi gempuran produk impor. Mulai dari garam impor. Gula impor. Beras impor. Cangkul impor. Buah impor. Tapi jg diam ketika berbagai subsidi untuk petani dicabut. Himpunan alumni pasti mendengar tapi memilih tak bersikap ketika terjadi demo ribuan nelayan cantrang di pantura. Pun hanya melihat dari kejauhan ketika mata pencaharian nelayan Teluk Jakarta pelahan mati karena proyek reklamasi. Bahkan menganggap bangkrutnya petani tebu akibat tidak tersalurnya produk gula mereka, sebagai urusan pemerintah semata. Tak ada suara dari Himpunan Alumni IPB ketika para petani itu menangisi kebangkrutannya. Betul-betul mati rasa.

Yang paling menohok adalah ketika terjadi hingar bingar tentang digrebeknya sebuah gudang beras di Bekasi. Kala itu, sebuah kesemena-menaan telah diperlihatkan penguasa, dan tak jelas alasannya.
Tuduhan itu adalah tentang pengoplosan antara beras premium dengan beras Rastra. Tapi itu dibantah Menteri Sosial sendiri dan tak terbukti. Kasus lalu bergulir menjadi tentang dipatoknya harga eceran beras premium tertinggi di tingkat konsumen. Segi hitung2 annya oleh para praktisi petani alumni IPB, dinilai tak masuk akal. Tapi itu hanya dapat disuarakan oleh para praktisi alumni IPB di ruang diskusi yg senyap. Tak ada saluran. Wadah alumni yg mestinya menfasilitasi, cuma diam.

Padahal jika mau, Himpunan Alumni IPB bisa aktif bersuara. Bukan melakukan politik pragmatis. Bukan pula ikut campur dalam kasus kriminalnya yg sarat politicking. Tapi bisa aktif jemput isu dengan membuat sebuah diskusi terbuka yg konstruktif.

Himpunan Alumni IPB dapat menghimpun suara para alumninya yg terjun menjadi praktisi petani padi dan perberasan nasional. Diskusi itu bisa mengungkap bagaimana kondisi di bawah yg sebenarnya. Hasilnya kemudian dapat menjadi tulisan di media yg mencerahkan semua pihak. Kalau perlu, hasil hitung2 an tentang harga beras tsb dikirimkan kepada pemerintah dan lembaga terkait, sebagai sebuah urun rembug agar proses demokrasi di negara ini makin transparan. Alumni IPB dapat membantu masyarakat untuk memahami hal yg sebenarnya terjadi, dan menjadi aspirator suara petani yg salurannya di daerah sering mengalami kebuntuan.

Dimanakah dulu para mahasiswa IPB yg kini telah menjadi Alumni itu berpraktikum, magang, atau melakukan penelitian?

Ya di semua tempat dimana terjadi masalah itulah mahasiswa IPB menjadi pintar. Ikut nelayan cantrang ke tengah laut, menginap bersama Nelayan Bagan di teluk Jakarta, belajar budidaya rumput laut, juga belajar mengemas ikan hasil tangkapan di cold storage yg tersebar di Muara Baru.
Tak sedikit pula yg magang di pabrik2 gula, belajar mengelola perkebunan tebu yg efisien, ataupun meneliti hasil panen padi dengan perlakuan yg berlainan di sebuah sawah produksi nan subur di Karawang.

Semua mahasiswa IPB pernah menjadi sahabat petani padi, petani ikan, petani rotan, petani kelapa sawit, petani bunga, petani hutan jati, petani buah lokal, dan petani2 lainnya. Tapi ketika telah lulus dan menjadi alumni, kok seolah menakutkan untuk mendengar suara mereka. Terutama jika suara itu berupa jeritan yg dianggap bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

Sikap diam yang seolah berposisi netral itu, sesungguhnya mematikan. Ia melumpuhkan nalar intelektual yang sengaja dibangun saat mahasiswa. Padahal buah pemikiran itu harusnya lantang disuarakan ketika telah menjadi alumni.

Siapa Calon Yang Layak Dipilih Menjadi Pemimpin HA IPB Selanjutnya?

Ketua Umum HA IPB harus dipilih yg tidak penakut. Tidak main aman demi menyelamatkan jabatan. Apalagi memakai nama organisasi HA IPB yg bergengsi untuk meraih jabatan lebih tinggi.

Karena itu sebaiknya Ketua Umum HA tidak diisi oleh mereka yg jadi pejabat struktural di pemerintahan. Jika itu terjadi, maka rasa ewuh-pakewuh yg parah pasti akan terjadi. Rasa ‘under’ dan ‘manut saja’ kepada dikte sang penentu kebijakan, berkaitan dengan kapasitas jabatan strukturalnya sehari2, akan berimbas kepada kebijakan di organisasi HA.

Maka rasa segan akan diletakkan dalam koridor yg tak wajar. Seperti sikap DIAM nya suara HA dalam menyikapi ragam rona politik pertanian selama ini.
DIAM nya HA itu bukan berarti netral. Tapi justru sarat dengan politik kepentingan. Dan lebih jelasnya, DIAM yg terkesan apatis bukanlah sifat yg diajarkan oleh kelompok terdidik atau intelektual.

Ketua Umum dan Sekjen HA IPB harus bukan orang partai. Apalagi duduk sebagai pengurus partai. Atau menjadi kepanjangan tangan partai di pemerintahan.

Jika di pemerintahan saja dia menjadi kepanjangan tangan partainya, apalagi ketika ia duduk memimpin Himpunan Alumni IPB.

Dalam konteks ini, Alumni IPB bukan anti politik. Malah justru harus melek politik. Tapi tidak mau ditunggangi orang politik, maupun menjadi messenger dari pesan2 politik yg sudah didesain sebelumnya.

Peran politik Himpunan Alumni IPB sebaiknya diletakkan pada koridor yg wajar. BUKAN NETRAL, TAPI MANDIRI. Memiliki suara sendiri yg harus berharkat martabat. Yaitu setiap pesan yg disuarakan harus dengan tujuan mengangkat kehidupan sosial petani. Karena Alumni IPB lebih wajar jika mengasosiakan diri sebagai petani. Bukan bekerja untuk menyamankan posisi sendiri atau mengamankan kepentingan politik partai. Apalagi dalam 2 tahun ke depan Indonesia memasuki tahun politik yg krusial, yg diprediksi akan berlangaung panas dan keras.

Pemimpin HA IPB harus dipilih yg mau terbuka dan bersuara aktif membela produk2 petani nasional dari gempuran produk2 asing.

Ikut berperan menyiapkan petani lokal dalam menghadapi perang efisiensi harga produksi. Dan ikut mempersolid suara petani agar menjadi suara yg kencang didengar.

Alumni IPB harus menyadari, karena ada profesi petani itulah maka lahir Institut Pertanian Bogor. Itulah tujuan semua pemuda yg memilih IPB sebagai tempat meraih pendidikan tinggi.
Meski IPB kini telah berkembang dengan memiliki berbagai bidang keilmuan seperti ilmu komputer, aktuaria, ilmu komunikasi, teknik sipil dan lingkungan, tapi semua ilmu itu tetap berangkat dari pertanyaan ‘Bagaimana Cara Memajukan Dunia Pertanian di Indonesia Dalam Arti Luas?’

Ketua Umum & Sekjen HA IPB harus memiliki inovasi untuk menumbuhkan jiwa wirausaha alumninya.
Entah itu dapat dilakukan dengan membuka pelatihan, mempelopori business tour ke perusahaan2 maju milik alumni, mendorong para motivator bisnis ulung lulusan IPB untuk memiliki jadwal mengabdi dan bertatap muka dengan para alumni, serta memiliki wadah komunikasi untuk para fresh graduate agar bisa segera tersalurkan ke dunia kerja sesuai bidang keilmuannya.

Jika itu dilakukan, maka Himpunan Alumni tidak hanya menjadi kritikus kebijakan, tapi juga menyumbangkan pemikiran dan kajian, bahkan ikut memecahkan beban berat negara soal masalah pengangguran dan ketenagakerjaan.

Kok Syarat Dan Beban Jadi Pengurus Himpunan Alumni Berat Sekali?

Ya begitulah jika memimpin sebuah organisasi sosial besar, dengan beban intelektual yg terlanjur melekat. Sehingga mau tak mau wajib memikul dan menjawab harapan2 besar dari masyarakat.

HA IPB akan tetap biasa2 saja jika para pemiliknya tidak memiliki mimpi2 yg luar biasa. Atau hanya akan menjadi wadah reunian atau silaturahmi saja, jika suara penghuninya dibatasi hanya riuh di dalam tapi sepi keluar. Bahkan hanya akan menjadi batu pijakan dan permainan pengurusnya, jika dipakai untuk menyuarakan politik praktis partai dan golongannya.

Semoga Ketua Umum dan Sekjen yg terpilih dalam Munas 16-17 Desember nanti bukanlah orang yg membesar2 kan rasa segan untuk memberikan masukan kepada pemerintah. Tapi justru harus merasa segan dan malu besar, jika tidak memiliki peran dan urun rembug terhadap masalah2 pertanian yg muncul.

Himpunan Alumni harus dapat membuka ruang diskusi seluas-luasnya. Berembug di dalam ruang yg nyata, maupun di ruang2 semu sosial media. Bagaimana batasannya? Semua dapat dirembuk bersama. Yang penting pengurus tidak mematikan saluran suara anggotanya. Dapat menyatukan kelompok2 alumni yg terpecah, mau merangkul alumni yg kecil, dan mendampingi alumni yg kuat.

SELAMAT BERMUNAS RIA HA- IPB…!

BRAVO IPB.
JAYALAH IPB KITA.

(Beta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *