SHARIA.co.id — Meningkatnya peredaran pangan ilegal dan mengandung bahan berbahaya menjadi salah satu fokus perhatian Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Ditemukan banyak makanan ilegal (tanpa izin edar/TIE), kadaluwarsa dan rusak di pasaran dalam waktu tiga tahun terakhir ini. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BPOM, Roy Sparringa saat menghadiri konferensi pers intensifikasi pengawasan dan kosmetik menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

“Kita telah melakukan pengawasan dengan rutin dan intensif. Khususnya pada produk-produk ilegal, rusak dan kadaluwarsa. Perlu kita ketahui, pengawasan secara intensif penting dilakukan karena adanya permintaan terhadap suatu produk meningkat, maka survey meningkat. Sehingga penting untuk kita awasi peredarannya,” ujar Roy saat ditemui di Kantor BPOM, Jakarta, Rabu (10/6).

Ia menjelaskan, sebagai contoh, peningkatan tersebut akan tampak dari melihat intensifikasi pengawasan pangan tahun 2012 yang menemukan 67.471 kemasan pangan ilegal. Lalu jumlah tersebut rupanya meningkat pada intensifikasi pengawasan pangan tahun 2013 dan 2014 menjadi 163.850 kemasan dan 1.324.059 kemasan. Dimana dalam hal ini, ditemukan adanya peningkatan yang cukup signifikan terhadap nilai ekonomisnya, yakni dari Rp 6.554.000.000,- menjadi Rp 52.962.360.000,-

“Target pengawasan adalah produk ilegal, tanpa ijin edar. Kita mengimbau kepada para pelaku usaha untuk tidak menjual produk ilegal, produk rusak, dan produk kadaluwarsa,” terangnya.

Oleh sebab itu, kata dia, pada tahun 2015 ini pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang menginstruksikan kepada seluruh Kepala BB/BPOM di tiap daerah untuk melakukan intensifikasi pengawasan obat dan makanan menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 H yang dimulai 3 (tiga) minggu sebelum Ramadhan. (ANNISA)

LEAVE A REPLY