Polisi Siksa Anak Umur 13 Tahun dengan Dalih Penyelidikan

1
9701

SHARIA.co.id — Kasus tindak kekerasan oleh pihak kepolisian terhadap seorang anak berusia 13 tahun dengan inisial V yang berdomisili di Tuban, dinilai oleh Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebagai suatu kasus yang sudah sering terjadi di masyarakat.

Dia mengatakan, tindak kekerasan oleh aparat penegak hukum dengan mengatasnamakan kebutuhan penyelidikan sering dilakukan walaupun dalam hal ini sangat jelas sudah menyalahi aturan hukum.

“Relasi dengan kepolisian itu cenderung dalam konteks penegakkan hukum dan itu cara-cara klasik tapi di dalam banyak tempat masih digunakan sebagai cara untuk melakukan proses investigasi, tentu itu tidak dibenarkan hukum, apalagi itu kepada anak,” ujar Asruron di Kantor KPAI, Jakarta, Selasa (23/6).

Dia menambahkan, aparat kepolisian di dalam hal ini secara sadar terikat dengan peraturan Kapolri No. 8 Tahun 2009 terkait implementasi prinsip dan standar HAM dalam penyelenggaran tugas kepolisian. Juga terikat dengan kode etik profesi kepolisian yang tercantum dalam Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2011. Namun dalam hal ini berdasarkan pantauannya, jumlah data yang masuk ke KPAI atas laporan kekerasan aparat penegak hukum terhadap anak memang tidaklah banyak.

“Justru ini yang anomali karena seharusnya penegak hukum memberikan teladan di bidang hukum sama dengan logika kalau pejabat KPK korupsi. Tentu meski kecil tapi strategis untuk diberi perhatian khusus,” lanjut Asruron.

Oleh sebab itu, kata dia, hal ini membutuhkan penanganan secara khusus terhadap kekerasan yang dilakukan oleh aparat penegakan hukum. Mengingat, lembaga kepolisian tersebut merupakan badan yang erat kaitannya dengan unsur kekuasaan yang bersifat khusus.

“Tentu ada hal-hal yang terkait dengan aspek kultural dan struktural karena cenderung punya kekuasaan yang bersifat penegakan hukum, sehingga butuh penanganan khusus. Kalau kondisi sosial berbeda tentu intervensinya juga berbeda,” terangnya.

Diketahui sebelumnya, kasus tersebut berawal dari aksi penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian lantaran munculnya sebuah laporan dari warga bernama Kurtubi dan Kusein yang mengaku kehilangan sepeda motor. Dalam hal ini korban V diduga mirip dengan pencuri motor tersebut. Dalam kesaksiannya, selama diperiksa polisi V mengaku telah mengalami sejumlah penyiksaan yang dilakukan oleh seorang polisi berinisial NH di Polsek Widang, yakni dipukul, ditodong pistol, ditelanjangi, dada diinjak, mulut dimasuki pistol, dan diancam dibunuh.

Mirisnya, berdasarkan bukti pemeriksaan, pada faktanya V tak terbukti melakukan tindak pencurian. Sehingga tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama dirinya pun kemudian dilepas. Tidak terima sang anak diperlakukan demikian buruk oleh aparat kepolisian tersebut, akhirnya keluarga khususnya orang tua V pun segera melaporkan hal ini ke Polres Tuban dan kemudian segera melakukan visum di Rumah Sakit dr. R Koesma Tuban guna memperkuat bukti. (ANNISA)

1 COMMENT

  1. Comment: Sebenar nya,fungsi Polisi,dalam rangka penegakan Hukum itu,harus dibatasi,.. Karena tdk jarang oknum Polisi itu sendiri,yg jd pelanggan & pelanggar hukum. Apalagi,di era pemerintahan yg amburadul seperti sekarang,..Bagaimana,jk suatu saat nanti,kesatuan rakyat yg merasa kedaulatan nya,di injak2 oleh kekuasaan hukum,yg cuma mengandal kan seragam dan UU..memberontak? ..

LEAVE A REPLY